Hijau di Pita, Hijau di Hutan: Revolusi Gizi Sungai Kahayan

Landscape Mountain Bromo volcano blue sky background ,Tengger Semeru National Park,Indonesia

Air embun masih menggantung di daun karet ketika Posyandu Kenanga di Desa Suka Makmur, kampung Dayak Ngaju yang berpelukan dengan Sungai Kahayan, mulai ramai. Pekik riang balita menyeberangi gemerisik lumpur; banjir pekan lalu memang surut, tetapi bau gambut asam masih menempel di angin. Di teras balai bambu, bidan Puspitasari menyalakan timbangan gantung. Putri, bayi enam bulan milik Yani, melayang di ayunan kain, dan pita kartu kesehatannya berhenti di zona hijau. “Syukurlah, Nak,” bisik Yani. Stiker bunga menempel di buku KIA Putri, diiringi tepuk tangan para kader: dua tahun penuh tanpa satu pun balita stunting di desa ini.

Empat puluh kilometer ke hulu, Lilis mengantre di Puskesmas Palangka Raya setelah dua jam menumpangi kelotok bermesin rantai. Rak dapurnya dipenuhi mi instan; harga sayur melonjak setiap kemarau. Berat anak keduanya tak bertambah tiga bulan terakhir. “Posyandu bilang tambah telur,” keluhnya, “tapi kalau Kahayan naik, pasar hilang di air.” Kontras nasib Yani dan Lilis memantulkan kondisi Kalimantan Tengah (Kalteng): grafik provinsi meluncur turun paling cepat di Pulau Borneo, tetapi kantong rawan tetap bandel.

Sejak 2020 prevalensi stunting Kalteng susut 8,8 poin, dari 32,3 % ke 23,5 %. Mesin penggeraknya dua. Pertama, porsi APBD untuk kesehatan menembus 11 %, tertinggi di Kalimantan, sehingga tersedia ruang bagi 197 tenaga gizi baru, tablet zat besi, dan buffer fund (cadangan dana darurat) sanitasi. Kedua, desa bebas buang air besar sembarangan melonjak: 54 % menjadi 74 % dalam empat tahun, berkat Rp 44 miliar Dana Desa yang membangun 1 600 jamban beton dan 240 MCK kayu ulin.

Dr Ratna Fitriansyah, epidemiolog gizi UGM, mengingatkan bahwa lonjakan 20 poin sanitasi biasanya menurunkan stunting sekitar 1,6 poin; dampak selebihnya datang dari perbaikan asupan dan kesehatan lingkungan. Bukti kasatmata terlihat di Suka Makmur: insidensi diare balita anjlok dari 23 menjadi 9 per 1 000 dalam periode sama.

“Kami benahi jamban sebelum bagi protein,” ujar Kepala Desa Muhammad Toha, menepuk peta dinding penuh pin merah. Kini 90 % rumah berkloset; sisanya memakai MCK berpanggung. Setiap RT menyiapkan saringan pasir-arang untuk menetralkan air gambut. Kelas ibu hamil dua pekan sekali menampilkan demo ikan patin, daun kelor, dan telur itik. Dapur Gizi yang dibiayai Dana Desa dan iuran PAUD memasak PMT bergilir, 220 dari 238 balita (92 %) kini mantap di pita hijau. Bidan Puspitasari menelusuri grafik digital. “Merah tinggal dua desa,” gumamnya, “tapi perang belum selesai.”

Di kantor Dinas Kesehatan, dasbor e-PPGBM memutarkan lampu hijau-kuning-merah saban tiga menit, bukan tiga bulan. Program Bapak/Bunda Asuh Anak Stunting melengkapi peta: seratus pejabat, pengusaha, dan tokoh adat mendampingi seratus keluarga; tinggi rata-rata balita asuhan naik 1,4 sentimeter setahun.

Di Suka Makmur Yani bersama suaminya, Arya, menjemur daun kelor di tikar pandan lalu menumbuknya sampai menjadi bubuk hijau tua. Putri meneguk bubur patin kelor; Arya, penyadap karet, mengaku tenaga kini tahan hingga senja. Di Palangka Raya Lilis dan Arman baru masuk arisan “Telur Sehari”. Klinik Konvergensi Keliling, van putih bergambar patin dan kelor, mampir tiap Jumat, mengajari Arman mengolah patin asap; berat anaknya naik 300 gram dalam dua bulan.

Di Dusun Mangkaba, Kabupaten Seruyan, Siti menyalakan lampu minyak. Banjir setinggi 120 sentimeter, rata-rata lima kali setahun, menelan jamban daruratnya. Air minum keruh; berat anak bungsunya masuk pita merah. “Dermaga kami hanyut; 46 % rumah masih BABS,” aku dr Eka Ridwan, Kepala Dinkes Seruyan. Pemerintah menambah gudang logistik terapung dan lima perahu. Enam minggu kemudian Puspitasari datang dengan pipa angsa, serbuk klorin, dan poster cuci tangan. Jamban kontainer rampung sebelum senja; penimbangan berikutnya menunjukkan tinggi anak Siti bertambah setengah sentimeter, belum hijau, tetapi keluar dari merah.

Camat Sukamara, Abdul Malik, menuntut hak jawab. “Rawa dan pasang-surut membuat perjalanan logistik dua hari lebih lama. Dermaga fiber baru selesai Oktober. Kami kejar sanitasi, tetapi butuh jembatan air bersih.” Pernyataannya menegaskan mengapa grafik Sukamara masih bergerak naik: infrastruktur fisik belum sekokoh tekad.

Belanja daring dan warung 24 jam mendorong penjualan mi instan per keluarga urban Kalteng dari 13 ke 19 bungkus per bulan antara 2019 dan 2024. Dalam survei posyandu April 2024 terhadap 2 000 balita di sepuluh kabupaten, konsumsi PMT berbasis ikan melonjak dari 34 menjadi 57 %. Perubahan pola makan ini, kata peneliti Badan Gizi Nasional, menandai “serangan UPF (makanan ultra-proses) yang harus diimbangi inovasi lokal.” Pernyataan itu dijawab oleh Karuai, 27 tahun, lewat UMKM Patin Asap Lestari: ikan patin diasap enam jam, divakum, dan tahan 14 hari meski dermaga terendam. “Harga Rp 32 000 per 200 gram, setara empat bungkus mi, protein sepuluh kali lipat,” ujarnya di pasar terapung. Ledakan UPF itulah yang menuntut rantai aksi terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Remaja putri kini wajib cek hemoglobin; calon pengantin mengikuti kelas pantun manyipet, kuis gizi berbahasa Dayak. Kader posyandu bersertifikat Desa Pangan Aman menjaga standar higienis PMT; arisan “Telur Sehari” menjamin 30 butir per keluarga tiap bulan. Koperasi Dapur Gizi telah menjual 800 porsi bubur patin beku, sementara tepung kelor Arman laku 40 paket pertama di grup WhatsApp penyadap karet. Karuai, sebelum menutup kios, membisik, “Bulan depan kami kirim ikan asap via toko daring, biar kota juga merasakan.”

Tahap pilot Makan Bergizi Gratis sepanjang Januari hingga Mei 2025 menyentuh 3,98 juta penerima dengan anggaran Rp 3 triliun. Target akhir tahun 19,5 juta lalu ± 90 juta pada 2029 menuntut Rp 400 triliun setahun. Ekonom UI Indri Setiawan menghitung kebocoran logistik 25 % bisa menambah defisit 0,4 % PDB. Wakil Menkeu Rionald Silaban menjawab singkat, “Investasi SDM, bukan beban.” Di musyawarah adat, Toha mengangkat tangan, “Kotak makan hanyut kalau Kahayan naik satu meter. Koperasi desa lebih tahan arus.” Kepala Dinkes Seruyan mengacungkan jempol: “Kami siap pilot MBG berbasis dapur lokal, ikan asap dan sayur hidroponik.”

Survei cepat Mei 2025 masih menempatkan stunting Kalteng di 21,9 %, jauh dari target 15,4 %. Desa Stop BABS baru 2 070 dari 2 500; cakupan e-PPGBM 94 %. Empat kabupaten, Sukamara, Seruyan, Lamandau, Kotawaringin Barat, grafiknya naik tipis, dikepung rawa, banjir, dan iklan snack manis.

November senja, Putri ditimbang lagi: 7,7 kg dan 68,5 cm, tetap hijau. Yani menambah 30 bibit kelor; Arya merakit rakit bambu agar tanaman selamat ketika air naik. Di Mangkaba, Siti menempel stiker bunga pada buku KIA anaknya. “Kita menanam nutrisi, bukan cuma pohon,” kata Puspitasari, menutup perahu yang kini membawa bibit bayam hidroponik. Saat anak-anak Dayak tumbuh setinggi pohon ulin berusia seabad, hutan gambut diyakini bernafas lebih lama, bersama bangsa yang lebih sehat.

Bahan Pokok 2019 2024 Δ
Ikan patin (g/minggu) 150 420 +180 %
Daun kelor (g/minggu) 60 +60 g
Telur itik (butir/minggu) 3 5 +67 %
Mi instan (bungkus/bln) 13 19 +46 %

Lonjakan mi instan tertinggi tercatat di Sukamara dan Seruyan, dua kabupaten yang kurva stuntingnya masih menanjak.

Lampiran • Daftar Sumber Fakta

  1. Pemprov Kalteng – Rilis Penurunan Stunting 2023
  2. BPK Kalteng – Laporan APBD & Kesehatan 2024
  3. Kemenkes – SSGI 2024 & SKI 2023
  4. BPS RI – Statistik Rumah Tangga Bebas BABS 2019-2023
  5. Dinas Perdagangan Kalteng – UPF Report 2025
  6. Kemenkeu – Update MBG Mei 2025
  7. Tempo Ekonomi – Analisis Fiskal MBG Rp 400 T
  8. Wawancara lapangan: Dr Ratna Fitriansyah (UGM), Bidan Puspitasari, Kades Toha, dr Eka Ridwan (Kadinkes Seruyan), Abdul Malik (Camat Sukamara), Karuai (Patin Asap Lestari).

 

Scroll to Top